Dengan sedikit jongkok Mbah Hanafi bersusah payah meraih kembali kopiah hitamnya dari sela-sela sendal para pentakziyah. Kopiah hitam beludru itu di beberapa sisi sudah lusuh dan timbul warna keemasan terutama di ujung atas depan yang sedikit lancip.
Setelah mengibas-ngibaskan kopiahnya agar debu yang menempel rontok serta merapikan rambut putihnya yang sedikit berkeringat, Mbah Hanafi melesakkan kembali kopiah itu hingga sebagian besar kepalanya tertutup. Belum selesai meletakkan posisi kopiahnya yang belum sepenuhnya rapi, lelaki berumur 70an tahun itu kembali terdesak dan terhimpit. Tubuhnya yang kurus sedikit oleng ke kiri kemudian ke kanan. Beruntung ada seorang polisi yang mengetahui keadaan itu, dengan sigap pak polisi itu merangkul tubuh pak Hanafi menjauh dari kerumunan dan gerombolan para pentakziah yang berhimipitan.

Posisi lelaki tua itu kini persis berada di bibir selokan. Dari posisinya sekarang, yang berjarak 2 meter sebelah selatan jembatan yang menjadi titik berkerumunnya ribuan orang, ia terbebas dari himpitan dan dorongan para pentakziah lainnya. Mereka, para pentakziah itu berharap bisa memasuki pintu gerbang yang pada hari ini hanya dapat dimasuki kalangan tertentu saja. Bahkan, beberapa bupati dan Wali Kota dari beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur maupun para Kyai tenar tidak dapat memasuki pintu gerbang itu. (more…)