pikun-2(howstuffworks.com)-dalam

Orang yang secara teratur mengonsumsi ikan memiliki risiko lebih kecil terkena risiko pikun dibandingkan dengan orang yang tidak pernah atau jarang mengkonsumsi ikan.

Para peneliti menemukan bahwa hampir 15.000 orang di China dan India atau satu dari lima orang di negara Amerika Latin yang sudah tua secara umum mengalami penurunan kepikunan setelah rajin mengkonsumsi ikan.

Untuk tiap partisipan dibedakan dalam hal mengkonsumsi ikannya mulai dari yang tidak pernah, beberapa hari dalam seminggu, hampir setiap hari dan yang tiap hari mengkonsumsi ikan dalam seminggu. Hasilnya, menunjukkan prevalensi penurunan dementia sebesar 19 persen.

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa anak muda yang sering mengonsumsi daging dalam makanan sehari-harinya memiliki prevalensi lebih tinggi terkena pikun dibandingkan dengan orang yang tidak pernah atau jarang mengkonsumsi daging.

“Banyak bukti sesungguhnya yang menunjukkan bahwa orang yang sering mengkonsumsi ikan akan memiliki risiko yang lebih kecil terkena pikun dimasa tuanya,” ujar Dr. Emiliano Albanese dari King’s College London di Inggris, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/8/2009).

Kemampuan ikan untuk melindungi otak ini dipercaya karena mengandung asam lemak omega 3 yang banyak ditemukan pada minyak ikan seperti salmon, tuna atau mackerel.

Penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa lemak omega 3 memiliki zat yang bisa mencegah pikun termasuk mampu untuk melindungi sel saraf, mengurangi peradangan dan membantu mencegah timbulnya protein amyloid yang terdapat pada otak penderita Alzheimer’s.

Penelitian terakhir didasarkan pada survei terhadap 14.960 orang tua yang berusia 65 tahun atau hidup di China , India , Kuba, Meksiko, Republik Dominika , Peru dan Venezuela. Ternyata didapatkan hubungan antara konsumsi ikan yang tinggi dan risiko terkena pikun yang rendah konsisten di semua negara.

Jadi, mulai sekarang jangan lupa untuk menambahkan ikan dalam menu makanan Anda sehari-hari, karena bisa mencegah kepikunan dimasa tua nanti.

Sumber : Vera Farah Bararah – detikHealth